China resmi mengumumkan rencana ekspansi stasiun luar angkasa Tiangong hingga dua kali lipat dari ukuran saat ini untuk menampung lebih banyak kru. Langkah strategis ini mempertegas ambisi Beijing di orbit rendah Bumi, terutama saat Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) bersiap untuk dipensiunkan pada 2031 mendatang.
Badan Antariksa Berawak China (CMSA) baru saja mengonfirmasi proyek ambisius untuk memperluas stasiun luar angkasa Tiangong. Fasilitas yang saat ini terdiri dari tiga modul tersebut akan ditambah menjadi enam modul utama dalam beberapa tahun ke depan. Ekspansi ini bukan sekadar menambah ruang, melainkan sinyal kuat bahwa Beijing siap mengambil alih tongkat estafet penelitian di orbit rendah Bumi (LEO).
Saat ini, Tiangong beroperasi dengan struktur berbentuk huruf "T" yang terdiri dari modul inti Tianhe serta dua modul laboratorium, Wentian dan Mengtian. Dengan penambahan tiga modul baru, konfigurasi stasiun akan berubah menjadi bentuk salib yang lebih kompleks. Penambahan ini akan meningkatkan massa total stasiun dari 100 ton menjadi sekitar 180 ton.
Meskipun secara fisik masih lebih kecil dibandingkan ISS yang memiliki massa 420 ton, efisiensi ruang pada Tiangong versi baru akan meningkat drastis. Kapasitas astronot yang bisa tinggal secara permanen akan naik dari tiga orang menjadi enam orang. Hal ini memungkinkan China melakukan rotasi kru yang lebih intensif dan menjalankan eksperimen sains dalam skala yang jauh lebih besar.
Proses konstruksi tambahan ini rencananya akan dimulai sekitar tahun 2027. China akan kembali mengandalkan roket berat Long March 5B untuk mengangkut modul-modul baru tersebut ke orbit. Modul tambahan ini akan dilengkapi dengan beberapa port docking yang berfungsi sebagai titik tambat bagi pesawat ruang angkasa tambahan maupun laboratorium internasional di masa depan.
Langkah Beijing ini muncul di saat krusial bagi komunitas antariksa global. Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), yang selama puluhan tahun menjadi simbol kerja sama Barat, dijadwalkan akan dihancurkan pada 2031. NASA bahkan telah menunjuk SpaceX untuk mengembangkan kendaraan khusus yang akan memandu ISS jatuh ke "kuburan" di Samudra Pasifik.
Kondisi ini menempatkan Tiangong pada posisi yang unik. Jika stasiun luar angkasa komersial milik perusahaan swasta AS belum siap beroperasi tepat waktu, Tiangong berpotensi menjadi satu-satunya laboratorium berawak yang tersisa di orbit Bumi. China, yang dahulu dilarang berpartisipasi dalam proyek ISS oleh Amerika Serikat, kini justru memegang kunci akses utama bagi penelitian ruang angkasa global.
China mulai membuka pintu Tiangong bagi mitra internasional sebagai bagian dari diplomasi teknologi mereka. CMSA baru-baru ini mengumumkan bahwa dua pilot dari Angkatan Udara Pakistan akan menjalani pelatihan untuk menjadi astronot cadangan, dengan rencana salah satu dari mereka akan terbang ke Tiangong. Ini akan menjadi tonggak sejarah bagi keterlibatan astronot non-Tiongkok di stasiun tersebut.
Selain Pakistan, keterlibatan personel dari Hong Kong dan Makau juga terus ditingkatkan. Strategi ini menunjukkan bahwa China ingin memosisikan diri sebagai pusat kolaborasi internasional yang baru, menggantikan peran yang selama ini didominasi oleh NASA dan Roscosmos Rusia. Namun, Beijing tetap memegang kendali penuh atas siapa saja yang diizinkan masuk ke laboratorium luar angkasa mereka.
Hingga saat ini, astronot China telah menyelesaikan lebih dari 260 eksperimen sains dan 26 aktivitas luar kendaraan (space walk) sejak modul inti diluncurkan pada 2021. Dengan kapasitas yang berlipat ganda, Tiangong diproyeksikan akan menjadi pusat pengembangan teknologi material, biomedis, dan fisika dasar yang akan menentukan arah industri teknologi di masa depan.