SUMATERA UTARA — Fenomena harga miring e-bike di pasar global, termasuk yang merambah Indonesia, bukan sekadar kabar gembira. Lonjakan permintaan saat pandemi Covid-19 mendorong produsen meningkatkan kapasitas produksi secara besar-besaran. Ketika permintaan kembali normal, gudang-gudang kebanjiran stok, memicu perang harga agresif dengan diskon mencapai puluhan persen.
Menurut pelaku industri, ada dua kemungkinan di balik pemangkasan harga tersebut. Pertama, perusahaan dengan fundamental kuat sengaja mengorbankan margin demi merebut pangsa pasar. Kedua, kondisi yang lebih mengkhawatirkan: perusahaan tengah mengalami tekanan keuangan dan butuh arus kas cepat untuk bertahan.
Pembeli yang hanya melihat diskon besar tanpa meneliti kesehatan merek berisiko tinggi. Jika perusahaan bangkrut, layanan garansi lenyap, suku cadang termasuk baterai sulit dicari, dan dukungan teknis untuk sistem motor listrik hilang sama sekali.
Data menunjukkan peningkatan jumlah perusahaan e-bike yang gulung tikar di Amerika Serikat dan Eropa dalam dua tahun terakhir. Salah satu contoh paling mencolok adalah perusahaan yang pernah memiliki valuasi lebih dari USD 1 miliar, namun akhirnya dijual hanya sekitar USD 13 juta setelah mengajukan kebangkrutan pada akhir 2025.
Fenomena ini membuktikan bahwa perang harga tidak selalu menandakan industri yang sehat. Justru bisa menjadi indikator bahwa banyak pemain sedang berjuang di ambang kebangkrutan.
Dampak paling nyata bagi konsumen adalah sulitnya mendapatkan baterai pengganti. Baterai merupakan komponen termahal pada e-bike sekaligus memiliki usia pakai terbatas. Ketika kapasitas baterai menurun dan merek aslinya sudah tidak beroperasi, sepeda listrik berisiko tidak bisa digunakan secara optimal.
Banyak pemilik e-bike kini mengeluhkan ketiadaan suku cadang dan dukungan teknis setelah merek yang memproduksi sepeda mereka tutup. Situasi ini membuat unit yang tadinya dibeli dengan harga diskon justru menjadi barang mahal yang tidak terpakai.
Bagi konsumen Indonesia, pelajaran dari pasar global ini penting dicermati. Memilih merek e-bike yang sudah mapan secara finansial dan memiliki jaringan servis luas kini menjadi pertimbangan yang sama pentingnya dengan harga. Diskon besar mungkin menggiurkan, tapi risiko kehilangan garansi dan suku cadang di kemudian hari bisa membuat kerugian jauh lebih besar.