Warung Kopi Wak Dollah di Medan Jadi Ruang Refleksi: 'Jangan Sampai Lupa Memperbaiki Hati'

Penulis: Yasir  •  Sabtu, 25 Juli 2026 | 14:50:31 WIB

MEDAN — Aroma kopi hitam dan kue talam buatan Mbak Lastri memenuhi sudut Warung Kopi Wak Dollah, Medan, Sabtu sore. Beberapa pengunjung mulai berdatangan, termasuk Dadang yang baru pulang kerja dan Arief pemilik rental mobil, serta Narko, sales mobil baru. Mereka berbincang santai sembari menunggu kopi.

Lucunya Manusia: Survei Mobil Vs Survei Akhirat

Tak lama setelah Narko menawarkan diskon mobil ke Arief, Wak Dollah yang sedang menuang kopi berkomentar, "Kalian ini, kalau ngobrol soal mobil semangat sekali. Coba kalau ngobrol soal bekal akhirat, semangatnya juga begitu." Suasana hening sejenak.

Pak Dermawan, yang sejak tadi menikmati kopi hitam, langsung menangkap peluang. "Benar, Wak. Lucunya manusia itu, kalau mau beli mobil baru, surveinya bisa berminggu-minggu. Bandingkan harga, mesin, konsumsi BBM, sampai warna jok. Tapi kalau mau masuk surga, banyak yang tidak sempat 'survei'," ujarnya. Dadang tersenyum menimpali, "Itu surveinya bagaimana, Pak?"

"Surveinya ada di Al-Qur'an. Di sana sudah dijelaskan jalan menuju keselamatan," jawab Pak Dermawan tenang.

Resep Kue dan Resep Masuk Surga

Mbak Lastri ikut bersuara, "Kalau resep kue saja saya baca berkali-kali supaya tidak gagal, apalagi resep masuk surga." Semua mengangguk setuju. Wak Dollah menambahkan, "Kalau kopi pahit masih bisa ditambah gula. Tapi kalau hati sudah pahit karena iri, dengki, dan sombong, obatnya cuma satu, kembali kepada Allah."

Narko yang biasanya banyak bicara kali ini hanya tersenyum sambil mengangkat gelas kopinya. "Pak, berarti yang perlu sering diservis bukan cuma mobil," katanya. Pak Dermawan langsung menimpali, "Betul. Hati juga perlu diservis. Servisnya dengan istighfar, shalat yang khusyuk, membaca Al-Qur'an, bersedekah, dan memperbanyak zikir."

Sholat Berjamaah Jadi Penutup Sore

Pak Dermawan melanjutkan, "Lihatlah, umur kita setiap hari berkurang. Rambut yang hitam berubah putih, tenaga bagaikan terkuras, teman-teman satu per satu dipanggil Allah. Maka jangan sampai hati tetap keras sementara waktu semakin sedikit." Suasana warung kembali hening, beberapa pengunjung lain ikut mengangguk.

Menjelang matahari tenggelam, senandung Al-Qur'an dari menara Masjid Ar-Rahman mulai terdengar. "Kita langsung ke Masjid, laki-laki sholat Fardu harus di Masjid," ujar Pak Dermawan. "Iya pak Der, tidak ada alasan sholat Fardu di rumah kecuali uzur," sahut Narto. "Siap," jawab yang lain serentak.

Sebelum beranjak, Wak Dollah menutup obrolan sore itu, "Besok-besok tetap datang ngopi di sini. Kopinya memang pahit, tapi mudah-mudahan hati kita semakin manis karena selalu diingatkan untuk mendekat kepada Allah." Suara setuju bergema dari semua pengunjung.

Reporter: Yasir
Sumber: wartaindonesia.org This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top