Harga Emas Pegadaian Kompak Turun 4 Agustus 2026, Galeri24 Jadi Pilihan Paling Murah di Bawah Rp 2,6 Juta

Penulis: Fajar  •  Selasa, 04 Agustus 2026 | 10:58:31 WIB
Harga emas Antam, UBS, dan Galeri24 di Pegadaian tercatat turun pada perdagangan 4 Agustus 2026.

SUMATERA UTARA — Tiga produk logam mulia yang dipasarkan Pegadaian—Antam, UBS, dan Galeri24—sama-sama mencatat penurunan harga pada perdagangan hari ini. Emas Antam masih menjadi yang termahal dengan harga Rp 2,708 juta per gram, turun Rp 7.000 dari posisi sebelumnya. Sementara itu, emas UBS turun lebih dalam Rp 8.000 ke level Rp 2,578 juta per gram.

Penurunan ini membuat selisih harga antara produk termahal dan termurah semakin terlihat. Galeri24, yang dipatok Rp 2,566 juta per gram, kini menawarkan selisih Rp 142.000 lebih murah dibandingkan Antam untuk ukuran yang sama. Bagi pembeli yang mencari efisiensi modal, pilihan produk menjadi pertimbangan tersendiri karena ketiga jenis emas tersebut sama-sama bersertifikat dan dijamin keasliannya oleh Pegadaian.

Pilihan Ukuran dan Modal Minimal untuk Investor Ritel

Pegadaian menyediakan variasi ukuran yang berbeda untuk tiap produk, memberi fleksibilitas bagi investor dengan berbagai tingkat modal. Emas Galeri24 tersedia paling lengkap, mulai dari 0,5 gram hingga 1 kilogram. Untuk memulai investasi, modal terkecil yang dibutuhkan hanya Rp 1,346 juta dengan membeli Galeri24 ukuran 0,5 gram.

Emas UBS juga menawarkan ukuran 0,5 gram dengan harga Rp 1,393 juta, namun pilihan ukurannya hanya sampai 500 gram. Adapun emas Antam, yang menjadi primadona karena likuiditasnya tinggi, hanya tersedia hingga ukuran 100 gram. Untuk ukuran 0,5 gram, Antam dibanderol Rp 1,407 juta—lebih mahal Rp 61.000 dibandingkan Galeri24.

Perbedaan harga antarproduk ini wajar terjadi karena masing-masing memiliki karakteristik berbeda, termasuk desain sertifikat dan proses pembelian kembali (buyback). Namun demikian, seluruh produk emas Pegadaian menggunakan kadar 99,99 persen sehingga kualitasnya setara.

Harga Dunia Tertekan Inflasi dan Sikap The Fed

Pelemahan harga emas di Pegadaian sejalan dengan pergerakan emas dunia yang masih berkutat di kisaran sempit. Harga emas spot tercatat turun 0,3 persen ke US$ 4.029,84 per ounce, sementara kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus terkoreksi 0,5 persen ke US$ 4.029,00 per ounce.

Analis Marex, Edward Meir, mengatakan emas telah bergerak dalam rentang US$ 4.000 hingga US$ 4.200 per ounce selama lebih dari satu bulan. Faktor penopang utamanya adalah ekspektasi pasar terhadap potensi inflasi yang kembali meningkat, terutama setelah data Juli diperkirakan membalikkan sebagian penurunan inflasi yang terjadi pada Juni.

"Faktor yang menopang harga emas saat ini adalah ekspektasi pasar terhadap kemungkinan inflasi kembali meningkat, terutama pada Juli ketika data terbaru diperkirakan akan membalikkan sebagian besar penurunan inflasi yang terjadi pada Juni," ujar Meir.

Di sisi lain, investor mencermati sikap tiga pejabat Federal Reserve yang menegaskan bahwa penundaan kenaikan suku bunga berisiko membuat inflasi tetap berada di atas target 2 persen. Presiden Federal Reserve New York, John Williams, juga menyampaikan kesiapan bank sentral untuk kembali menaikkan suku bunga jika tekanan inflasi tak mereda. Kondisi suku bunga tinggi biasanya menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil.

Konflik Timur Tengah dan Data Tenaga Kerja AS

Ketegangan geopolitik masih menjadi variabel yang diawasi ketat pelaku pasar. Harga minyak Brent sempat melonjak lebih dari 20 persen setelah konflik AS-Iran memanas dan serangan terhadap kapal tanker di sekitar Oman. Situasi ini memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Namun, pernyataan Iran pada Senin yang membantah adanya pembicaraan dengan AS menambah ketidakpastian baru. Klaim Presiden Donald Trump yang menyebut adanya pembicaraan sebagai alasan pembatalan rencana serangan bertolak belakang dengan pernyataan resmi Teheran.

Pelaku pasar kini menanti serangkaian data ketenagakerjaan AS pekan ini untuk mencari petunjuk arah kebijakan suku bunga berikutnya. Data tersebut akan menjadi penentu apakah tekanan inflasi benar-benar mereda atau justru kembali menguat—sekaligus menjadi sinyal bagi pergerakan harga emas dalam beberapa pekan ke depan.

Reporter: Fajar
Sumber: liputan6.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top