Banjir Bandang Tapsel Timpa Sawah Yanti, Lahan 0,5 Hektare Kini Tersisa 0,1 Hektare dan Ekonomi Keluarga Terpuruk

Penulis: Yasir  •  Rabu, 12 Agustus 2026 | 14:23:01 WIB
Yanti (45) menunjukkan sisa lahan sawahnya yang tertutup material lumpur dan bebatuan akibat banjir bandang di Desa Bange, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

TAPANULI SELATAN — Senyum Yanti (45) pagi itu tampak memaksakan diri. Di balik sapaan ramahnya, tersimpan gundah yang dalam. Hamparan sawah di depan matanya yang dulu menghijau, kini hanya menyisakan tanah berlumpur bercampur bebatuan. Perempuan asal Desa Bange, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara, ini harus menerima kenyataan pahit bahwa sumber utama penghidupan keluarganya telah berubah dalam sekejap.

Dari 3,5 Ton Gabah Menjadi Lahan Tak Layak Tanam

Sebelum bencana melanda, kehidupan Yanti dan suaminya boleh dibilang berkecukupan. Mereka menggarap lahan sawah seluas 0,5 hektare dengan indeks pertanaman dua kali setahun. Setiap musim panen, lahan tersebut mampu menghasilkan sekitar 3,5 ton gabah kering.

Dengan estimasi harga gabah di kisaran Rp7.000 per kilogram, hasil panen itu memberikan pendapatan hingga Rp24,5 juta setiap musim panen. Uang tersebut tidak hanya untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menjadi tabungan untuk biaya pendidikan lima anaknya yang masih duduk di bangku SD, SMP, hingga SMA.

Namun, banjir bandang yang datang pada 25 November 2025 mengubah segalanya. Lahan produktif itu kini tertutup material lumpur, pasir, dan bebatuan. Dari total luas lahan, hanya sekitar 0,1 hektare yang masih bisa ditanami padi.

Perjuangan Bertahan di Tengah Keterbatasan

"Setelah banjir, sawah kami tinggal sedikit. Banyak yang tertutup pasir dan lumpur sehingga tidak bisa lagi ditanami seperti dulu," kata Yanti kepada Antara, menggambarkan kondisinya saat ini.

Dengan lahan yang tersisa, hasil panen kini lebih banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga sehari-hari. Keinginan untuk menyekolahkan anak-anak hingga perguruan tinggi pun semakin berat, karena pemasukan dari sawah tidak lagi mencukupi.

Untuk bertahan hidup, Yanti dan keluarganya mulai mencari sumber penghasilan alternatif. Mereka membuka lahan untuk menanam palawija dan tanaman hortikultura. Upaya ini dilakukan sebagai langkah darurat, mengingat sawah yang tertimbun material dinilai belum mampu kembali menjadi sumber penghidupan seperti sedia kala.

Bukan Hanya Yanti, Petani Lain Juga Terdampak

Kondisi yang dialami Yanti ternyata bukan kasus tunggal. Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Batu Godang Sayur Matinggi, Takdir Ali Syabana, mengungkapkan bahwa banyak petani lain di wilayah kerjanya mengalami nasib serupa. Sejumlah areal persawahan di Desa Tolang Jae, Tolang Julu, dan Lumban Huayan masih tertutup material lumpur, pasir, dan bebatuan yang terbawa arus banjir bandang.

"Masih banyak petani lain yang mengalami kondisi serupa," ujar Takdir.

Kondisi tersebut membuat sebagian besar lahan belum dapat diusahakan kembali untuk tanaman padi. Para petani kini hanya bisa berharap dan menunggu adanya intervensi dari pemerintah daerah.

Harapan Pemulihan Lahan Pertanian

Yanti berharap ada perhatian serius dan upaya pemulihan terhadap lahan pertanian yang rusak, terutama pembersihan sedimentasi yang menutup areal persawahan. Menurutnya, tanpa pemulihan lahan, petani akan semakin sulit mengembalikan produktivitas pertanian mereka.

Bagi Yanti dan petani lainnya, pemulihan lahan bukan sekadar persoalan mengembalikan areal persawahan. Lebih dari itu, pemulihan menjadi harapan untuk mengembalikan sumber penghidupan keluarga yang selama ini bergantung pada sektor pertanian. Tanpa langkah konkret, masa depan pertanian di kawasan itu dan kesejahteraan para petaninya akan semakin suram.

Reporter: Yasir
Sumber: sumut.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top