SUMATERA UTARA — Masa sekolah menengah atas kerap menjadi ruang eksplorasi bagi remaja untuk menemukan minat di bidang seni. Lewat kegiatan seperti band, teater, atau paduan suara, banyak individu mulai berani tampil di depan publik dan membangun kepercayaan diri yang kelak berguna di dunia profesional.
Sejumlah nama beken di industri hiburan Indonesia mengawali perjalanan mereka justru dari panggung sekolah. Berikut kisah empat artis yang membuktikan bahwa bakat bisa ditempa sejak bangku SMA.
Dunia akting Indonesia kehilangan salah satu aktor terbaiknya ketika Epy Kusnandar berpulang. Sebelum dikenal luas sebagai Kang Mus di serial Preman Pensiun, pria kelahiran 1963 ini sudah akrab dengan panggung teater sejak duduk di bangku SMA pada sekitar 1983.
Ketertarikannya pada seni peran kemudian ia perdalam di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) pada 1989. Bergabung dengan sanggar Pantomim Sena Didi dan Theater Aristokrat semakin mematangkan kemampuan aktingnya sebelum ia melebarkan sayap ke layar kaca dan layar lebar.
Hal serupa dialami Tika Bravani. Aktris yang membintangi film Alangkah Lucunya (Negeri Ini) ini mulai mencintai seni peran lewat ekstrakurikuler teater di SMP Labschool Kebayoran. Ketertarikan itu berlanjut saat ia menempuh pendidikan di SMA Negeri 70 Jakarta.
Meski sempat vakum ketika kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, fondasi dari bangku sekolah tetap membawanya terjun ke industri hiburan. Jalan kariernya terbuka lebar setelah mengikuti ajang Abang None DKI Jakarta pada 2009, yang berujung pada debut aktingnya setahun kemudian.
Sebelum menjadi juri ajang pencarian bakat dan musisi papan atas, Anang Hermansyah pernah menjadi vokalis band rock semasa SMA di Jember, Jawa Timur. Bersama tiga rekannya, ia mendirikan La Vila Rock Band yang cukup populer di kalangan anak muda kota tersebut kala itu.
Suara melengking khasnya membuat grup ini cepat dikenal. Keseriusan Anang di dunia musik semakin teruji ketika ia berkuliah di Universitas Islam Bandung dan bergabung dengan sanggar milik Doel Sumbang. Perjalanan berlanjut ke Jakarta, di mana ia bergabung dengan grup band Kidnap Katrina pada 1990-an.
Di jalur musik yang berbeda, Melly Goeslaw mengasah kemampuan vokalnya lewat grup vokal binaan komposer legendaris Elfa Secioria semasa SMA. Pengalaman menjadi penyanyi latar sejak masa sekolah ini menjadi pintu masuknya mengenal industri musik secara serius.
Momen penting terjadi ketika Melly bertemu Anto Hoed dan Arie Ayunir. Dari pertemuan itu, lahirlah grup musik Potret yang mengantarkannya menuju puncak karier sebagai "Ratu Soundtrack" lewat berbagai lagu tema film ikonik, termasuk Ada Apa dengan Cinta.
Kisah keempat artis di atas menunjukkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler bisa menjadi titik awal yang berharga untuk mengenali potensi diri. Band, teater, maupun grup vokal menyediakan ruang aman bagi remaja untuk mencoba hal baru tanpa beban profesional.
Namun, tidak semua passion yang tumbuh di masa sekolah harus langsung dijadikan karier. Bagi sebagian orang, pengalaman berkesenian semasa SMA cukup menjadi bekal untuk membangun kepercayaan diri dan kemampuan bersosialisasi—nilai yang tetap berguna di bidang apa pun yang mereka tekuni kelak.