Pencarian

Warung Kopi Wak Dollah di Medan Jadi Ruang Jeda Warga Bersilaturahmi di Tengah Harga Sembako yang Naik

Rabu, 05 Agustus 2026 • 20:01:01 WIB
Warung Kopi Wak Dollah di Medan Jadi Ruang Jeda Warga Bersilaturahmi di Tengah Harga Sembako yang Naik
Warga berbincang santai menikmati kopi di Warung Kopi Wak Dollah, Medan, di tengah kenaikan harga sembako.

MEDAN — Di tengah gejolak harga telur, beras, minyak makan hingga BBM yang terus menanjak, Warung Kopi Wak Dollah di Medan hadir sebagai oase kecil bagi warga untuk melepas penat. Suasana hangat dan gelak tawa menyambut setiap pengunjung yang datang, menjadikan warung kopi ini lebih dari sekadar tempat mengisi perut, melainkan ruang untuk menjaga silaturahmi dan menguatkan mental di masa sulit.

Kopi Goceng dan Petuah Gratis yang Menenangkan

Di meja sudut warung, asap kopi hitam membumbung tipis beradu dengan canda tawa yang tak kunjung padam. Wak Dollah, pemilik warung, dengan setia menenteng teko tua abu-abu melayani para tamunya. Suasana ini menjadi pemandangan sehari-hari yang dinanti-nantikan oleh pelanggan setianya.

Dadang, salah seorang pengunjung, melontarkan celetukan khasnya yang mengundang tawa. "Negeri kita ini memang luar biasa ajaibnya. Semua harga tidak pernah naik, hanya disesuaikan saja. Telur, beras, minyak makan bahkan BBM disesuaikan. Yang gak disesuaikan cuma satu, deretan angka di slip gaji ku!" ujarnya sambil melempar kacang goreng ke udara dan menangkapnya dengan mulut.

Arief yang duduk di sebelahnya menimpali, "Tapi Dang, kita harus bersyukur. Justru di saat semua barang pada pamer harga, cuma tempatnya Wak Dollah yang istiqomah. Kopi tetap goceng, tambah gorengan hangat, plus bonus mendengarkan petuah gratis dari Pak Dermawan."

Jeda Bernama Ngopi di Tengah Himpitan Ekonomi

Percakapan hangat itu berlanjut dengan kehadiran Pak Dermawan yang membagikan nasihat menyejukkan. Ia mengutip pesan dari sahabatnya, Abdul Aziz, Sekretaris Komdigi MUI Sumut, yang menekankan pentingnya jeda di tengah kesibukan dan tekanan hidup. "Di tengah antrian panjang yang menguras kesabaran, di tengah harga-harga yang makin menanjak, di tengah dada yang rasanya kian sesak, Allah titipkan jeda bernama ngopi," ungkap Pak Dermawan menirukan pesan tersebut.

"Bukan untuk bermalas-malasan, tapi untuk mengingatkan kita semua, bahwa hidup ini bukan sekadar berlari mengejar yang tak ada habisnya. Bahwa berteman itu bukan sekadar raga yang duduk bersama, tapi bagaimana kita saling jaga, saling paham, dan saling menguatkan," lanjutnya dengan suara lembut yang menyentuh relung hati para pengunjung.

Memilih untuk Tidak Menyakiti di Masa Sulit

Pesan mendalam itu sontak mengubah suasana. Dadang yang biasanya paling nyaring melontarkan candaan, kini matanya tampak berkaca-kaca. "Masya Allah, ngena banget ke hati, Pak. Kadang kita terlalu sibuk ngurusin urusan luar, sampai lupa kalau hati kita sendiri sudah kehabisan napas," bisiknya pelan.

Pak Dermawan menegaskan bahwa orang hebat bukanlah mereka yang tidak pernah marah, melainkan mereka yang mampu berhenti sejenak untuk ngopi dan memilih untuk tidak menyakiti. Filosofi sederhana ini menjadi pegangan bagi warga yang tengah berjuang menghadapi himpitan ekonomi.

Warung Kopi sebagai Penguat Ketahanan Sosial

Keberadaan warung kopi seperti Wak Dollah menunjukkan peran penting ruang publik informal dalam menjaga kesehatan mental warga. Di tengah tekanan ekonomi yang memicu stres dan emosi, warung kopi menjadi tempat aman untuk berbagi cerita dan saling menguatkan.

Mbak Lastri, pengunjung lainnya, mengungkapkan bahwa warung ini menjadi tempatnya melepas stres. "Kadang kita kejar-kejaran semua urusan dunia sampai lupa napas. Antri di jalanan macet, emosi naik, harga sembako ikut-ikutan merangkak. Sampai di sini, minum kopi seduhan Wak Dollah, rasanya tensi langsung meluncur turun," tuturnya.

Di tengah segala keterbatasan, Warung Kopi Wak Dollah membuktikan bahwa kedamaian tak selalu butuh kemewahan. Cukup secangkir kopi, ketulusan rasa, dan persaudaraan yang tak pernah padam untuk menjaga semangat warga menghadapi hari-hari sulit. Wak Dollah pun mengingatkan dengan guyonan khasnya, "Asal ingat satu hal lagi yang paling penting, sehebat-hebatnya kita ngopi dan bicara soal negeri, jangan lupa bayar bon nya!"

Follow www.inisumut.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: wartaindonesia.org

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks