SUMATERA UTARA — Keputusan drastis ini diambil setelah audit kerentanan siber rutin menemukan komunikasi "heartbeat" yang mencurigakan. Sinyal tersebut secara berkala dikirim dari kamera drone ke sebuah alamat IP yang berlokasi di China, memicu kekhawatiran soal potensi kebocoran data operasi militer.
Kamera China Lolos dari Pemeriksaan Asal-Usul
K3 Scout dipasok oleh Kraken Technology Group, kontraktor pertahanan asal Inggris. Kamera yang digunakan ternyata berasal dari produsen pihak ketiga di luar negeri, dan sebagian komponennya diproduksi di luar Inggris. Yang lebih memprihatinkan, pemeriksaan asal-usul komponen gagal mendeteksi hal ini sebelum drone dioperasikan.
Juru bicara Kraken Technology Group mengakui adanya kelalaian ini. "Kami sadar bahwa sejumlah kamera yang mematuhi NDAA memiliki sebagian kecil komponen yang berasal dari luar Inggris," ujarnya. Ia menambahkan bahwa setelah audit penuh oleh Kraken dan Angkatan Laut Inggris, mereka yakin tidak ada informasi sensitif yang bocor dan semua celah keamanan telah ditutup.
Namun, pernyataan tersebut berbanding terbalik dengan pengakuan berikutnya. Kraken akhirnya mengakui bahwa pemeriksaan asal-usul komponen gagal total dan kepercayaan terhadap platform drone K3 Scout telah hilang sepenuhnya.
Dampak pada Operasi dan Kepercayaan Publik
Armada drone senilai £12 juta ini bukanlah perangkat mainan. K3 Scout digunakan oleh Coastal Forces Squadron dan 47 Commando, memiliki kemampuan mengangkut muatan hingga 600 kg, dan bisa beroperasi nonstop selama 30 hari. Drone yang sama juga telah dibeli oleh US Special Operations Command dan diuji dalam serangkaian latihan NATO di Laut Baltik.
Kementerian Pertahanan Inggris menegaskan bahwa jaringan dan sistem internal mereka tidak terpengaruh oleh insiden ini. "Investigasi menyeluruh menemukan tidak ada bukti data atau sistem Kementerian Pertahanan yang disusupi," kata juru bicara Kementerian Pertahanan.
Meski begitu, insiden ini memicu pertanyaan besar soal strategi pengadaan drone pemerintah yang didukung investasi £5 miliar. Pemerintah memang berjanji membuat pembelian pertahanan "dengan bangga pro-Inggris", tetapi kasus ini menunjukkan komponen buatan China masih tertanam dalam di perangkat keras militer berlabel Inggris.
Pertanyaan Kedaulatan dan Keamanan Nasional
Alicia Kearns, menteri keamanan bayangan, menegaskan bahwa insiden ini adalah soal kedaulatan. "Jika kita tidak bisa memastikan dengan yakin apa yang ada di dalam peralatan militer kita sendiri, maka kita tidak bisa menyebut itu milik kita, atau kita tidak berdaulat," ujarnya.
Ia juga menyoroti risiko yang lebih besar. "Ketika kamera yang dibangun dari komponen China ditemukan merekam pasukan khusus kita—wajah, latihan, dan operasi mereka—kita seharusnya tidak kaget, tapi marah karena kita masih belum sadar akan realitas ancaman yang kita hadapi."
Episode ini mengikuti serangkaian peringatan panjang tentang komponen China di infrastruktur sensitif Inggris, termasuk keputusan untuk akhirnya membongkar peralatan Huawei dari jaringan 5G. Namun, pemerintah saat ini justru sedang berupaya membangun kembali hubungan ekonomi dan diplomatik dengan Beijing, dengan sejumlah menteri yang mengunjungi Shanghai awal tahun ini.