SAMOSIR — Ketua Komunitas Peduli Cinta Anak Samosir, Pandri Sitanggang, memberikan klarifikasi resmi mengenai polemik pembagian sepatu kepada siswa sekolah di Kabupaten Samosir yang viral belakangan ini. Pandri menyatakan bahwa dirinya tidak pernah mendapat tekanan dari Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Samosir terkait kegiatan sosial yang dijalankannya.
Pernyataan tersebut disampaikan Pandri saat ditemui di Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Samosir, Jalan Danau Toba, Pangururan, Senin (4/5/2026). Pandri, yang juga merupakan staf PNS di instansi tersebut, menjelaskan bahwa kegaduhan yang terjadi murni karena kesalahpahaman komunikasi di tingkat lapangan.
"Sampai sekarang saya tidak ada ditekan oleh Dinas Pendidikan Samosir, tapi saya sempat tertekan karena beberapa kepala sekolah menghubungi saya dan meminta supaya tidak datang ke sekolah mereka,” ujar Pandri Sitanggang, Senin (4/5/2026).
Pandri menjelaskan bahwa situasi sempat memanas ketika para donatur mulai mempertanyakan realisasi penyaluran bantuan sepatu. Penolakan dari beberapa kepala sekolah membuatnya panik hingga terbawa emosi sesaat di media sosial.
Dalam kondisi tersebut, ia mengakui telah melakukan kekeliruan dengan menyebarkan tangkapan layar percakapan WhatsApp Kepala Dinas Pendidikan di grup internal kepala sekolah ke ruang publik. Unggahan tersebut sempat memicu opini liar di kalangan netizen yang menganggap pemerintah daerah menghalangi bantuan untuk anak sekolah.
“Saya akui itu kesalahan saya, seharusnya tidak saya posting,” kata pria yang akrab disapa Coganss tersebut. Ia berharap klarifikasi ini dapat menghentikan kegaduhan di media sosial agar tidak menimbulkan sentimen negatif yang berkepanjangan di tengah masyarakat Samosir.
Guna menghindari polemik serupa di lingkungan sekolah, Pandri memutuskan untuk mengubah skema penyaluran bantuan. Kedepannya, pembagian sepatu bagi anak-anak kurang mampu tidak lagi dilakukan di area sekolah pada hari Sabtu atau luar jam kerja.
Komunitas Peduli Cinta Anak Samosir akan mendistribusikan bantuan langsung dari rumah ke rumah (door to door). Langkah ini akan melibatkan koordinasi dengan pihak gereja dan pemerintah desa setempat untuk memastikan bantuan tepat sasaran tanpa mengganggu aktivitas akademik siswa.
“Penyaluran bantuan akan dilakukan secara langsung dari rumah ke rumah, dengan melibatkan pihak gereja dan pemerintah desa setempat,” tuturnya. Pandri juga berencana mengunggah video klarifikasi di akun media sosial pribadinya untuk meluruskan informasi kepada para pengikut dan donatur.
Plt Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Samosir, Eka Damanik, memastikan bahwa Pandri Sitanggang tetap menjalankan tugasnya sebagai staf dengan baik. Menurutnya, kegiatan literasi ke sekolah-sekolah tetap berjalan normal dan tidak ada larangan pemberian bantuan selama prosedurnya tepat.
Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Samosir, Jonson Gultom, menegaskan bahwa pemerintah daerah mendukung setiap aksi sosial. Namun, ia memberikan catatan khusus mengenai dokumentasi kegiatan yang melibatkan anak-anak di bawah umur.
Jonson mengingatkan agar setiap aksi pemberian bantuan tidak disertai dengan perekaman video atau publikasi wajah anak-anak secara berlebihan di media sosial. Hal ini merujuk pada prinsip perlindungan anak dan privasi siswa agar bantuan yang diberikan tidak melukai martabat penerima manfaat.
Polemik ini diketahui bermula dari unggahan video pembagian sepatu di akun TikTok milik Pandri yang kemudian diambil oleh pihak lain dan disebarkan ulang dengan narasi yang berbeda hingga menjadi viral.