Negosiasi hak siar Piala Dunia 2026 di India dan China menemui jalan buntu meski turnamen tinggal menghitung hari. Kondisi ini memicu kekhawatiran FIFA karena kedua negara menyumbang 22 persen total penonton global. Jika kesepakatan gagal, jutaan penggemar sepak bola terancam tidak bisa menyaksikan turnamen secara langsung.
FIFA menghadapi tantangan besar dalam mengamankan jangkauan siaran global untuk Piala Dunia 2026. Dua negara dengan populasi terbesar di dunia, India dan China, hingga kini belum mencapai kesepakatan hak siar. Padahal, per 5 Mei, turnamen paling bergengsi di jagat raya tersebut hanya menyisakan waktu 37 hari sebelum sepak mula dilakukan.
Laporan dari Reuters menyebutkan bahwa kebuntuan ini tetap terjadi meskipun FIFA dilaporkan telah menurunkan harga penawaran secara signifikan. Ketidakhadiran siaran langsung di dua pasar raksasa ini diprediksi akan memangkas angka penonton televisi global secara drastis, mengingat signifikansi demografis keduanya bagi industri olahraga dunia.
Di pasar India, raksasa media Reliance-Disney menjadi pemain utama dalam negosiasi ini. Mereka mengajukan tawaran sebesar 20 juta dolar AS atau sekitar Rp321 miliar untuk hak siar edisi 2026. Namun, angka tersebut ditolak mentah-mentah oleh FIFA karena dianggap terlalu jauh dari nilai pasar yang diharapkan oleh badan sepak bola dunia tersebut.
"Untuk India, FIFA awalnya menuntut 100 juta dolar AS untuk hak siar Piala Dunia 2026 dan 2030," kata seorang sumber yang mengetahui jalannya negosiasi tertutup tersebut kepada Reuters. Angka permintaan FIFA ini didasari pada kesuksesan edisi 2022, di mana Reliance mengamankan hak siar senilai 60 juta dolar AS dan berhasil menarik 110 juta penonton daring di berbagai platform mereka.
Keberanian Reliance-Disney menawar rendah bukan tanpa alasan. Sebagai entitas yang baru saja melakukan merger, mereka kini memiliki posisi tawar yang sangat kuat di sektor media dan streaming India. Mereka lebih memilih mengalokasikan miliaran dolar untuk hak siar kriket, yang secara tradisional memang jauh lebih menguntungkan di pasar lokal dibandingkan sepak bola.
Faktor geografis menjadi batu sandungan lainnya bagi FIFA dalam menjual produk mereka di India. Karena Piala Dunia 2026 berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, sebagian besar pertandingan akan disiarkan setelah tengah malam waktu India. Hal ini secara otomatis menurunkan minat pengiklan untuk menggelontorkan dana besar.
Selain masalah jam tayang, kondisi geopolitik seperti konflik di Iran juga disebut-sebut memengaruhi kalkulasi anggaran iklan global. Bagi Reliance-Disney, membeli hak siar dengan harga tinggi dari FIFA dianggap tidak layak secara finansial. Perhitungan bisnis menunjukkan bahwa potensi pendapatan dari iklan tidak akan mampu menutup biaya lisensi yang diminta FIFA.
China juga menjadi sorotan tajam bagi FIFA. Pada Piala Dunia 2022, China menyumbang hampir 50 persen dari total jam menonton daring secara global. Jika China dan India gagal mencapai kesepakatan, FIFA akan kehilangan akses ke basis penggemar yang secara kumulatif menguasai lebih dari 22 persen pangsa pasar penonton Piala Dunia global.
Kondisi serupa merembet ke kawasan Asia Tenggara. Hingga awal Mei, baru 6 dari 11 negara di kawasan ini yang sudah mengamankan hak siar, salah satunya adalah Vietnam melalui saluran VTV. Sementara itu, negara dengan basis massa sepak bola yang fanatik seperti Thailand dan Malaysia masih berada dalam ketidakpastian tanpa adanya terobosan berarti dalam meja negosiasi.
Situasi ini menempatkan FIFA dalam posisi terjepit. Mereka harus memilih antara menurunkan standar nilai komersial demi menjaga angka penonton global, atau tetap bertahan pada harga tinggi namun berisiko kehilangan miliaran pasang mata di pasar paling potensial di dunia.