PEMATANGSIANTAR — Kader mahasiswa yang tergabung dalam Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Pematangsiantar berkumpul untuk merefleksikan kembali ajaran Santo Fransiskus dari Assisi. Seminar bertajuk “800 Tahun Santo Fransiskus dari Assisi” ini menjadi momentum penguatan karakter bagi generasi muda di Kota Siantar.
Ketua Presidium PMKRI Pematangsiantar, Fransisco Mezgion Hutauruk, menekankan bahwa warisan spiritual Santo Fransiskus sangat krusial bagi anak muda saat ini. Ia menilai tantangan zaman modern seringkali menjebak individu dalam standar kemewahan semu.
“Kita diajak melihat kembali bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada kemewahan materi, melainkan pada ketulusan hati untuk berbagi dan kepedulian terhadap sesama,” ujar Fransisco di sela-sela kegiatan, sebagaimana dikutip Minggu (10/5/2026).
Seminar ini menghadirkan Pastor Paulus Silalahi, OFMCap dari Biara Kapusin St. Laurensius sebagai narasumber utama. Dalam paparannya, ia membedah perjalanan spiritual Santo Fransiskus yang memilih jalan kerendahan hati dan melepaskan ego demi pengabdian kepada sesama manusia.
Menurutnya, nilai-nilai yang dibawa oleh tokoh asal Assisi tersebut bukan sekadar sejarah, melainkan panduan hidup yang tetap relevan. Mahasiswa didorong untuk menemukan kekayaan sejati melalui ketulusan dan keberanian untuk hidup bersahaja di tengah lingkungan yang kompetitif secara material.
“Jalan yang ditempuh Fransiskus adalah jalan cinta. Kekayaan sejati ditemukan saat kita mampu melepaskan ego dan merangkul kemanusiaan dengan ketulusan,” tutur Pastor Paulus di hadapan para peserta.
Selain aspek sosial dan spiritual, seminar ini memberikan porsi besar pada pembahasan kesadaran ekologis. Pastor Paulus Silalahi mengingatkan bahwa Santo Fransiskus merupakan pelindung ekologi yang memandang alam semesta bukan sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai saudara.
Kesadaran ini dinilai sangat penting bagi mahasiswa sebagai agen perubahan. Mahasiswa diharapkan memiliki kepekaan terhadap isu lingkungan hidup yang saat ini menjadi tantangan global, termasuk di wilayah Sumatera Utara.
Seminar Tahun Yubileum ini diakhiri dengan ajakan bagi seluruh kader PMKRI Pematangsiantar untuk mengimplementasikan poin-poin refleksi tersebut dalam aksi nyata di tengah masyarakat, baik melalui gerakan sosial maupun pelestarian lingkungan di sekitar kampus dan tempat tinggal.