SUMATERA UTARA — Google baru saja menyelesaikan proses transisi aplikasi Fitbit ke Google Health, yang dimaksudkan sebagai pusat data kesehatan terpadu antara Fitbit, Google Fit, dan Health Connect. Namun, hasil survei dari 1.500 pembaca Android Authority menunjukkan bahwa langkah ini justru menuai kekecewaan besar. Lebih dari setengah responden (51%) mengaku tampilan aplikasi memang lebih segar, tapi pengalaman pakainya justru jauh lebih buruk.
Keluhan paling keras datang dari pengguna yang kesulitan mengakses data dasar. Seorang pembaca bernama stuartgiles mengatakan butuh waktu lebih lama untuk menemukan metrik paling sederhana di aplikasi baru ini. "Sejak dipaksa upgrade ke Google Health, mencari informasi seperti jumlah langkah kemarin terasa seperti misi yang hampir mustahil," tulisnya.
Masalah lain adalah data statistik dan grafik yang kini tidak bisa diurutkan, diletakkan di posisi yang tidak konsisten, dan dalam beberapa kasus benar-benar tersembunyi. Semua data ditumpuk di tab Health dan pengguna dipaksa mengedit sendiri untuk menyematkan grafik yang diinginkan. Tidak ada opsi untuk melihat tren harian dengan cepat seperti di aplikasi Fitbit lama.
Fitur AI coach yang dipamerkan Google ternyata menjadi sumber frustrasi baru. Alih-alih memberikan ringkasan singkat, AI ini menghasilkan dinding teks panjang yang dianggap repetitif dan tidak membantu. Seorang pengguna yang ikut serta dalam pratinjau publik, craigalanfowler, mengaku sudah memberikan banyak masukan, namun tidak satupun diindahkan oleh Google.
"Saya pakai AI di banyak aspek kehidupan, tapi untuk kesehatan harian saya hanya ingin melihat data dan grafik. Teks AI yang bertele-tele itu umumnya tidak membantu dan membuat aplikasi sulit dipakai," tulisnya. Ia menambahkan, AI coach akan lebih berguna jika bisa dipanggil saat dibutuhkan, bukan dipajang di muka pengguna sepanjang waktu.
Pengguna lain, omrose.farmer, bahkan mengancam akan beralih ke Apple Watch. "Saya benci semua hal tentang aplikasi baru ini! Tidak ada yang intuitif, saya tidak bisa dengan mudah meninjau tren. Google telah merusak produk dan pengalaman pengguna yang hebat," tulisnya.
Bagi pengguna Fitbit di Indonesia, situasi ini patut diwaspadai. Jika Anda sudah terlanjur melakukan migrasi, bersiaplah dengan kurva belajar yang curam. Untuk sementara, pengguna disarankan untuk menyematkan widget data yang paling sering dipantau ke tab Health agar lebih cepat diakses. Namun, jika pengalaman browsing data harian adalah prioritas utama, mempertimbangkan ekosistem wearable lain seperti Apple Watch atau Garmin mungkin menjadi opsi yang lebih masuk akal.
Hanya 5% responden yang menyukai cara kerja aplikasi baru tapi tidak suka tampilannya, sementara 13% mengaku tidak peduli dan 9% belum mendapatkan pembaruan aplikasi. Data ini menunjukkan bahwa masalah utama Google Health bukan pada estetika, melainkan pada kegagalan fundamental dalam menyajikan data kesehatan dengan cara yang sederhana dan cepat diakses — sesuatu yang justru menjadi alasan orang membeli Fitbit sejak awal.