SUMATERA UTARA — PANGKAL PINANG – Kapal Oil Barge (OB) Patra 2303 kini tak lagi sepenuhnya bergantung pada solar. Pertamina NRE, subholding Pertamina yang menangani energi baru dan terbarukan, memasang panel surya berkapasitas 11,5 kWp yang terintegrasi dengan sistem penyimpanan energi baterai (BESS) berkapasitas 32 kWh di kapal tersebut.
Ini adalah kali pertama teknologi PLTS dipasang di kapal pengangkut minyak di lingkungan Pertamina. Pemasangannya pun tidak sederhana, karena harus mempertimbangkan aspek kelistrikan, keselamatan, dan keandalan sistem di atas kapal yang membawa muatan mudah terbakar.
Dengan memanfaatkan sinar matahari untuk memenuhi kebutuhan listrik operasional kapal, konsumsi solar berkurang drastis. Pertamina NRE menghitung, penghematan mencapai 28 kiloliter per tahun, atau setara Rp365 juta dari sisi biaya operasional.
Tak hanya soal ongkos, langkah ini juga berdampak langsung pada lingkungan. Emisi karbon yang berhasil ditekan mencapai 79,2 ton CO2 ekuivalen per tahun. Angka ini menunjukkan bahwa sektor maritim, yang selama ini identik dengan cerobong asap dan solar, punya opsi untuk bertransisi ke energi yang lebih hijau.
Direktur Utama Pertamina NRE, John Anis, menegaskan bahwa proyek ini bukan sekadar uji coba. “Implementasi proyek ini bukanlah sesuatu yang sederhana. Hasilnya dapat kita lihat hari ini, yaitu pengurangan penggunaan bahan bakar diesel secara signifikan dan kontribusi nyata terhadap pengurangan emisi karbon,” ujarnya, Jumat (12/6).
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero), Agung Wicaksono, menambahkan bahwa keberhasilan ini membuka mata banyak pihak. Menurutnya, pemerintah mendorong pembangunan PLTS hingga 100 GW dan salah satu fokus utamanya adalah dedieselisasi. “Jika di laut saja bisa dilakukan, maka peluang implementasinya di berbagai sektor lainnya tentu akan semakin besar,” tutur Agung.
Keberhasilan pemasangan di OB Patra 2303 menjadi batu loncatan. Pertamina berencana memperluas program dekarbonisasi armada maritim ini secara bertahap ke enam kapal Oil Barge lainnya hingga tahun 2029. Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar Pertamina untuk mendukung target Net Zero Emission Indonesia.
Proyek ini juga membuktikan bahwa sinergi antar-subholding di lingkungan Pertamina mampu menghasilkan inovasi nyata. Dari darat ke laut, transisi energi mulai merambah ke sektor-sektor yang sebelumnya dianggap sulit untuk didekarbonisasi.