Pencarian

Harga TBS Sawit Sumut Periode Terbaru 30 Juli Tertahan di Level Rp3.962,27 per Kg, Petani Mulai Hitung Biaya Produksi

Jumat, 31 Juli 2026 • 07:41:00 WIB
Harga TBS Sawit Sumut Periode Terbaru 30 Juli Tertahan di Level Rp3.962,27 per Kg, Petani Mulai Hitung Biaya Produksi
Petani memanen tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di perkebunan Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Senin (29/7/2024).

MEDAN — Dinas Perkebunan Sumatera Utara merilis harga patokan TBS kelapa sawit untuk periode 30 Juli 2024 yang stagnan di Rp3.962,27 per kilogram. Penetapan ini berlaku untuk seluruh kabupaten sentra produksi sawit di provinsi tersebut, seperti Langkat, Asahan, Labuhanbatu, dan Simalungun. Angka tersebut tidak mengalami perubahan signifikan dibandingkan penetapan dua pekan sebelumnya.

Harga Jual di Bawah Biaya Produksi Rata-Rata Petani Mandiri

Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sawit Mandiri Sumut mencatat biaya produksi pekebun swadaya saat ini berkisar antara Rp3.800 hingga Rp4.200 per kilogram, tergantung jarak kebun ke pabrik dan akses jalan. Dengan harga jual yang hanya Rp3.962,27, petani di daerah dengan biaya angkut tinggi hampir tidak mendapat untung.

“Kami harus mengeluarkan ongkos panen dan pupuk yang tidak murah. Kalau harga terus di angka segini, pekebun kecil yang hanya punya satu dua hektare paling mentok cuma balik modal,” ujar seorang perwakilan pekebun di Kabupaten Langkat, Senin (29/7).

Faktor Penekan: Harga Minyak Sawit Internasional dan Stok Domestik

Stagnasi harga TBS di Sumut dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar global yang cenderung flat dalam sepekan terakhir. Selain itu, stok CPO domestik yang masih tinggi juga menahan laju kenaikan harga di tingkat petani.

Dinas Perkebunan Sumut sebelumnya menyebut formula penetapan harga TBS mengacu pada harga CPO di pasar lelang dan indeks yang diterbitkan Dinas Perkebunan Provinsi. Tidak ada intervensi harga dari pemerintah daerah dalam formula ini.

Imbas ke Perekonomian Desa: Daya Beli Pekebun Turun

Di beberapa desa di Kabupaten Asahan, pekebun mulai menunda pembelian bibit sawit unggul dan pupuk NPK karena ketidakpastian harga. Kepala Desa Aek Songsongan, Kecamatan Aek Songsongan, menyebutkan bahwa aktivitas perdagangan di pasar desa ikut melambat sejak harga sawit bertahan di bawah Rp4.000.

“Uang yang beredar di kampung berkurang. Pekebun hanya belanja kebutuhan pokok, tidak ada lagi uang lebih untuk beli pakaian atau servis motor,” katanya.

Prospek Pekan Depan: Masih Tergantung Harga CPO Global

Analis perkebunan memperkirakan harga TBS Sumut berpotensi naik tipis pada penetapan awal Agustus 2024 jika permintaan CPO dari India dan China meningkat. Namun, jika stok domestik masih melimpah, bukan tidak mungkin harga kembali bertahan atau justru turun.

Pemerintah Provinsi Sumut belum mengumumkan rencana intervensi khusus untuk menjaga harga TBS di tingkat petani. Pekebun diimbau untuk memperkuat kelembagaan kelompok tani agar bisa menekan biaya produksi secara kolektif.

Follow www.inisumut.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: sumatra.bisnis.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks