Pemerintah pusat memastikan pembangunan jaringan pipa gas Dumai–Sei Mangkei senilai Rp 3,5 triliun terus berjalan untuk menjamin kepastian pasokan energi bagi industri di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung menegaskan infrastruktur pendukung ini menjadi kunci menjaga keberlanjutan investasi dan daya saing produk industri di kawasan tersebut.
SIMALUNGUN — Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung menegaskan komitmen pemerintah dalam menyediakan infrastruktur pendukung di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Kabupaten Simalungun. Salah satu proyek strategis yang tengah digarap adalah pembangunan jaringan pipa gas Dumai–Sei Mangkei dengan nilai investasi mencapai Rp 3,5 triliun.
Proyek ini dinilai krusial untuk menjamin kepastian pasokan energi bagi industri yang beroperasi di kawasan tersebut. Pernyataan itu disampaikan Yuliot saat meresmikan pengembangan operasional produksi PT Unilever Oleochemical Indonesia di KEK Sei Mangkei, Rabu, didampingi Wakil Gubernur Sumatera Utara Surya.
Pasokan Listrik Hijau Ditargetkan Dongkrak Bauran EBT Sumut
Selain jaringan gas, pemerintah juga memperkuat pasokan listrik berbasis energi terbarukan. Percepatan operasional PLTA Batang Toru di Kabupaten Tapanuli Selatan dengan kapasitas 510 MW menjadi salah satu andalan, begitu pula PLTA Asahan 3 yang tersebar di Kabupaten Asahan dan Kabupaten Toba berkapasitas 150 MW.
Potensi panas bumi turut dioptimalkan untuk menopang kebutuhan listrik industri. Yuliot menjelaskan, langkah ini diproyeksikan mampu meningkatkan bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) di Sumatera Utara hingga 30–40 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional.
"Dengan ketersediaan gas, listrik terbarukan, dan bahan baku yang cukup di dalam satu ekosistem di KEK Sei Mangkei, maka daya saing produk industri kita di pasaran global akan menjadi sangat tinggi," ujarnya.
Investasi Tembus 1,87 Miliar Dolar AS, Serap 16.000 Tenaga Kerja
KEK Sei Mangkei tercatat telah menarik akumulasi investasi sebesar 1,87 miliar dolar AS dari 29 pelaku usaha hingga pertengahan tahun ini. Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK Rizal Edwin Manansang menyebut kawasan ini juga telah menyerap sekitar 16.000 tenaga kerja.
PT Unilever Oleochemical Indonesia menjadi investor jangkar dengan akumulasi investasi mencapai 52 juta dolar AS, di luar proyek ekspansi terbaru. Pada semester I 2026, ekspor perusahaan ini menyumbang 403 juta dolar AS atau lebih dari separuh total ekspor KEK Sei Mangkei yang mencapai 778 juta dolar AS.
Kontribusi tersebut membuktikan hilirisasi kelapa sawit di Indonesia mampu bersaing langsung di rantai nilai global.
Target Ekspor 800 Juta Dolar AS ke 30 Negara
Chief Supply Chain Officer Unilever Willem Uijen menyatakan optimisme terhadap masa depan manufaktur berkelanjutan di Indonesia. Fasilitas operasional PT Unilever Oleochemical Indonesia secara keseluruhan kini diproyeksikan mampu mengirim hingga 600.000 ton produk oleokimia ke lebih dari 30 negara.
Potensi nilai ekspor diperkirakan mencapai 800 juta dolar AS. Pabrik fatty alcohol ini disebut memperkuat posisi Indonesia dalam memproduksi oleokimia bernilai tinggi.
"Investasi ini bukan sekadar perluasan kapasitas produksi, tetapi juga dedikasi kami pada manufaktur rendah karbon berbasis bio-energi sirkular, serta komitmen memberdayakan tenaga kerja dan masyarakat lokal," tutur Willem.