KARO — Jembatan beton di jalur utama Desa Pernantin menjadi satu-satunya akses mobilitas warga menuju lahan dan pasar. Pemasangan gelagar menandai peralihan pekerjaan dari struktur bawah ke struktur atas jembatan.
Pengerjaan melibatkan personel Kodim 0205/Tanah Karo bersama masyarakat setempat. Kolaborasi itu bagian dari percepatan infrastruktur di wilayah pedesaan yang dinilai masih tertinggal dari konektivitas antarkecamatan.
Mengapa Jembatan Ini Penting bagi Warga Pernantin
Desa Pernantin menyimpan potensi pertanian dan perkebunan yang selama ini menjadi penopang ekonomi warga. Komoditasnya antara lain jeruk keling, cengkeh, dan beras condong yang dikenal sebagai beras lokal berkualitas premium.
Akses transportasi yang memadai dibutuhkan agar hasil panen bisa keluar dari desa tanpa hambatan. Selama ini, kondisi jalur penghubung menjadi kendala tersendiri bagi petani saat mengangkut hasil bumi.
Kapendam I/Bukit Barisan: Infrastruktur Kunci Konektivitas
Kapendam I/Bukit Barisan Kolonel Inf Sandy, S.I.P., M.Han., menilai pembangunan infrastruktur berperan penting dalam meningkatkan konektivitas wilayah. Menurutnya, konektivitas yang baik turut mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.
"Pembangunan infrastruktur memiliki peran penting dalam meningkatkan konektivitas wilayah dan mendukung aktivitas ekonomi masyarakat," kata Sandy.
Pernyataan itu menegaskan posisi jembatan bukan sekadar proyek fisik. Infrastruktur yang memadai disebut menjadi salah satu faktor pendukung perkembangan ekonomi dan kemajuan desa.
Progres 38 Persen dan Tahapan Berikutnya
Hingga Rabu (21/10/2026), pengerjaan jembatan beton masih berlangsung dengan progres 38 persen. Pemasangan gelagar menjadi tahapan yang sedang dikerjakan saat ini.
Pembangunan selanjutnya diharapkan berjalan sesuai tahapan yang direncanakan. Targetnya, jembatan bisa segera dimanfaatkan untuk menunjang aktivitas warga Desa Pernantin dan sekitarnya.
Bagi warga, jembatan ini berarti waktu tempuh lebih singkat dan biaya angkut hasil panen yang lebih ringan. Dua hal yang selama ini memberatkan petani di desa dengan potensi perkebunan tersebut.