FJPI Medan Suarakan Kebebasan Pers Lewat Seni Teater di Taman Budaya

Penulis: Yasir  •  Rabu, 06 Mei 2026 | 03:59:01 WIB
Pementasan teater FJPI Medan mengangkat isu kebebasan pers di Taman Budaya Medan.

MEDAN — Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) menyuarakan kegelisahan atas kondisi pers nasional yang kian terhimpit melalui pementasan teater bertajuk "Dari Ruang Redaksi ke Panggung Teater: Merawat Kebebasan Pers Lewat Seni". Kegiatan yang berlangsung di Taman Budaya Medan ini menyoroti tren penurunan indeks kebebasan pers Indonesia dalam tiga tahun terakhir.

Ketua Umum FJPI, Khairiah Lubis, mengungkapkan bahwa data Reporter Without Borders (RSF) menunjukkan posisi Indonesia merosot tajam. Dari peringkat 108 pada 2023, posisi Indonesia diprediksi terjun ke peringkat 129 pada 2026 dari total 180 negara yang disurvei.

Kondisi ini diperparah dengan meningkatnya ancaman, teror, hingga praktik sensor mandiri (self-censorship) yang menghantui para jurnalis, terutama jurnalis perempuan. Melalui medium seni, FJPI berupaya mencari celah kreatif agar fakta tetap bisa tersampaikan kepada publik tanpa kehilangan esensi edukasinya.

Respons Kreatif Terhadap Penurunan Indeks Kebebasan Pers

"Momentum Hari Kebebasan Pers Sedunia menjadi pengingat bagi kita semua untuk melihat sejauh mana kebebasan berekspresi dapat dijalankan tanpa tekanan dan tanpa praktik self-censorship," ujar Khairiah Lubis dalam sambutannya di Medan.

Pendekatan seni teater dipilih karena dinilai mampu menyentuh sisi emosional masyarakat sekaligus menjadi sarana penyampaian informasi yang lebih hidup. Sejak 2024, FJPI telah konsisten menggunakan panggung kreatif untuk mengangkat isu-isu sensitif, termasuk beban ganda yang dipikul jurnalis perempuan di lapangan.

Sebelumnya, pada Maret 2026, organisasi ini juga sukses menggelar pementasan teater bertema bencana. Hasil penjualan tiket dari acara tersebut disalurkan sebagai bantuan sosial bagi warga terdampak bencana di Aceh Tamiang dan Tapanuli Tengah.

Kolaborasi Seni dan Jurnalisme Sebagai Pisau Bedah Realitas

Ketua Medan Teater Tronik, Hafiz Taadi, melihat adanya kesamaan fundamental antara panggung teater dan meja redaksi. Menurutnya, kedua disiplin ini memiliki fungsi yang sama dalam membedah fenomena sosial yang terjadi di masyarakat.

"Dunia teater dan dunia jurnalis sama-sama memiliki pisau bedah untuk mengupas realitas, hanya cara penyampaiannya yang berbeda," ungkap Hafiz.

Senada dengan hal tersebut, Ketua FJPI Sumut, Khairunnisak Lubis, menegaskan bahwa kolaborasi lintas disiplin ini bukan sekadar seremonial. Ruang ekspresi ini penting untuk menjaga ingatan kolektif dan mendorong jurnalis perempuan agar lebih produktif dalam memproduksi karya-karya bertema kebudayaan.

Dukungan Pendidikan bagi Seniman Muda di Medan

Acara ini juga mendapat perhatian dari Anggota Komisi X DPR RI, Sofyan Tan, yang secara konsisten mendukung ruang kreatif bagi jurnalis perempuan. Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan pentingnya akses pendidikan sebagai alat untuk memutus rantai kemiskinan dan mengubah kondisi sosial.

"Saya memang seorang dokter, tetapi ingin berjuang mengubah manusia dari kemiskinan melalui pendidikan," kata Sofyan Tan.

Sebagai bentuk nyata dukungan terhadap ekosistem seni, Sofyan Tan memberikan tawaran beasiswa KIP untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi Setya Bhinneka kepada Rindy Riyani. Rindy merupakan seniman muda yang tampil memukau saat membacakan puisi bersama fotografer Mafa Yulie pada pembukaan acara tersebut.

Reporter: Yasir
Sumber: medanposonline.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top