MEDAN — Kompany, pelatih asal Belgia, tidak menyembunyikan kekecewaan atas dua insiden handball kontroversial yang tidak diputuskan wasit sebagai penalti. Kedua situasi itu, menurut Kompany, memberikan dampak signifikan pada hasil akhir pertandingan.
Insiden pertama terjadi saat bek PSG Nuno Mendes melakukan handball yang tampak disengaja di babak pertama. Meski Mendes sudah menerima kartu kuning sebelumnya, Kompany merasa wasit akan mengeluarkan kartu merah tetapi "berhenti ketika menyadari Mendes sudah punya kartu kuning dan tidak ingin mengusirnya."
Alih-alih memberikan penalti, wasit memberikan tendangan bebas untuk PSG. Menurut Kompany, wasit menjelaskan bahwa Konrad Laimer Bayern terlebih dahulu menyentuh bola dengan tangan, sehingga insiden itu dianggap bukan pelanggaran keras.
Insiden kedua menyangkut tendangan Vitinha yang mengenai tangan rekan setimnya Joao Neves di kotak penalti PSG. Namun wasit juga tidak memberikan penalti untuk Bayern pada situasi itu.
Ketidakadilan ini dirasakan lebih dalam karena pada leg pertama, Bayern mendapatkan penalti karena handball yang dilakukan Alphonso Davies. Disparitas keputusan inilah yang membuat Kompany merasa timnya tidak mendapat perlakuan adil sepanjang dua leg pertandingan.
"Kita harus melihat kembali beberapa situasi yang diputuskan wasit sepanjang dua leg. Meskipun itu bukan alasan untuk segalanya, jelas itu memiliki dampak signifikan," ujar Kompany. Dia menambahkan, "Jika Anda melihat kedua leg, mereka membuat terlalu banyak keputusan yang merugikan kami. Para pemain berjuang habis-habisan melawan tim hebat seperti PSG."
Meski kekalahan ini menyakitkan bagi Bayern, PSG berhasil lolos ke final Liga Champions musim 2025-2026 dengan agregat 6-5. Mereka akan bertemu Arsenal di final yang akan diselenggarakan pada 30 Mei.