SUMATERA UTARA — Lahir di Madiun pada 3 Januari 1968, Nanik memulai kiprahnya bukan dari birokrasi atau politik, melainkan dari dunia pers kampus. Ia aktif menulis soal kemiskinan dan ketimpangan di media mahasiswa saat menempuh S1 Biologi di Universitas Jenderal Soedirman. Pengalaman itu membentuk pola pikir yang membawanya bertahun-tahun kemudian mengelola program pemenuhan gizi nasional.
Dari Tabloid Bangkit hingga Komisaris Pertamina
Karier jurnalistiknya dimulai pada 1989 di Persda-Kompas, lalu merambah ke Tabloid Bangkit yang juga bagian dari grup Kompas Gramedia. Nanik kemudian memimpin sejumlah media seperti Majalah Femme, Tabloid Info Kecantikan, dan The Politic. Ia juga sempat menjabat Direktur MNC pada 2005-2009 sebelum akhirnya masuk ke panggung politik nasional.
Di luar jurnalistik, ia mengantongi gelar S2 Ilmu Kehutanan dari Universitas Gadjah Mada. Latar belakang ini membuatnya tak hanya paham komunikasi publik, tapi juga isu lingkungan dan keberlanjutan sumber daya alam — yang relevan dengan rantai pasok pangan program gizi nasional.
Dua Tahun Berproses di Badan Gizi Nasional
Nanik bukan wajah baru di BGN. Sejak 17 September 2025, ia menjabat Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi. Posisi itu memberinya tanggung jawab mengawasi pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sekaligus menjadi Ketua Pelaksana Harian Tim Koordinasi program tersebut.
Pengalaman itu dinilai Presiden cukup untuk menaikkan posisinya menjadi Kepala BGN setahun kemudian. Sebelumnya, ia juga sempat menjabat Wakil Kepala I Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) sejak Oktober 2024 hingga September 2025.
Jejak di BUMN dan Politik: Dari Pertamina ke BPN 2019
Sejak 12 Juni 2025, Nanik juga duduk sebagai Komisaris Independen PT Pertamina (Persero). Penunjukan oleh Kementerian BUMN ini menandai perluasan kariernya ke sektor korporasi negara. Ia masuk dalam jajaran pengawas perusahaan minyak dan gas terbesar di Indonesia.
Di ranah politik, namanya mencuat saat menjadi Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno pada Pilpres 2019. Kedekatan dengan lingkaran kekuasaan ini menjadi salah satu faktor yang mendorong kariernya di pemerintahan setelah Prabowo memenangkan Pilpres 2024.
Pendidikan Sains Jadi Modal Program Gizi
Berbeda dari banyak pejabat publik yang berlatar ilmu sosial atau hukum, Nanik memiliki fondasi sains yang kuat. Gelar S1 Biologi dari Unsoed memberinya pemahaman tentang ilmu kesehatan dan lingkungan. Kombinasi dengan pengalaman investigasi jurnalistik dan manajemen media membuat pendekatannya dalam menangani masalah gizi dinilai lebih terukur.
Program Makan Bergizi Gratis yang menjadi tugas utama BGN menuntut koordinasi lintas sektor: dari petani sebagai pemasok bahan pangan, logistik distribusi, hingga standar gizi yang harus dipenuhi. Nanik dihadapkan pada tantangan memastikan program ini berjalan tanpa kebocoran dan tepat sasaran.