Insiden yang dilaporkan San Francisco Chronicle pada Kamis (3/4) ini membalikkan asumsi publik bahwa robotaxi adalah alat pengawasan bergerak yang sempurna. Alih-alih membantu penegakan hukum, sistem keamanan Waymo justru menyisakan celah yang dimanfaatkan pelaku.
Kronologi Pencurian: Dari Robotaxi ke Studio Yoga, Lalu Kabur Lagi
Menurut rekaman kamera keamanan studio Hot 8 Yoga, pelaku naik Waymo menuju lokasi, masuk ke dalam studio, mengambil pakaian yoga, lalu kembali ke mobil yang sama dan melarikan diri. Polisi kemudian meminta data akun Waymo yang terkait dengan perjalanan tersebut melalui surat izin penggeledahan—namun informasi itu "tidak mengarahkan polisi ke tersangka," tulis Chronicle.
Lebih mengejutkan lagi, rekaman dari kamera eksterior Waymo tidak bisa digunakan untuk mengidentifikasi pelaku. Waymo sengaja mengaburkan (blur) wajah dan plat nomor kendaraan di sekitarnya demi alasan privasi. Kebijakan yang dirancang untuk melindungi pejalan kaki dan pengguna jalan ini justru menjadi tameng bagi pelaku kejahatan.
Data Rekaman Waymo: Disimpan Tapi Tidak Selamanya
Waymo memang merekam dan menyimpan data perjalanan—termasuk video dari kamera di dalam dan luar mobil. Namun, tidak diketahui secara pasti berapa lama data tersebut disimpan. Yang jelas, ketika surat izin penggeledahan resmi diajukan polisi pada April, rekaman yang diminta sudah tidak tersedia lagi.
Ini menjadi pertanyaan serius: seberapa cepat Waymo menghapus data rekaman perjalanan? Jika datanya hanya bertahan beberapa bulan, maka robotaxi tidak bisa diandalkan sebagai alat investigasi untuk kasus-kasus yang baru terungkap jauh setelah kejadian.
Privasi vs Keamanan: Dilema yang Kembali Terbuka
Kasus ini menghadirkan dilema klasik antara perlindungan privasi dan kebutuhan penegakan hukum. Waymo, seperti perusahaan robotaxi lainnya, beroperasi di bawah tekanan regulasi ketat di California yang mewajibkan perlindungan data pribadi pengguna dan pejalan kaki. Kebijakan pengaburan wajah dan penghapusan data berkala adalah bentuk kepatuhan terhadap aturan tersebut.
Tapi ketika kebijakan itu justru melindungi pelaku kriminal, publik berhak bertanya: seberapa besar kompromi yang harus diberikan? San Francisco sendiri sudah menjadi ajang uji coba bagi berbagai layanan robotaxi, termasuk Waymo dan Cruise milik GM, dan insiden seperti ini bisa mempengaruhi persepsi regulator terhadap operasional mereka ke depan.
Apa Selanjutnya untuk Waymo?
Hingga berita ini ditulis, polisi San Francisco masih memburu tersangka. Waymo sendiri belum memberikan pernyataan resmi mengenai kebijakan penyimpanan data dan pengaburan rekaman kamera eksteriornya. Yang jelas, kasus pencurian pakaian yoga ini telah membuka celah keamanan yang lebih besar dari sekadar kehilangan barang—yakni kepercayaan publik terhadap robotaxi sebagai alat bantu penegakan hukum.