MEDAN – Dampak bencana banjir dan tanah longsor besar yang menerjang Sumatera Utara pada akhir November 2025 lalu ternyata masih menyisakan duka mendalam. Hingga awal Maret 2026, ribuan warga dilaporkan masih tertahan di posko pengungsian karena kondisi pemukiman yang belum memungkinkan untuk ditempati kembali.
Berdasarkan data terbaru dari Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) Sumatera Utara per 5 Maret 2026 pukul 17.00 WIB, tercatat sebanyak 3.016 jiwa dari 754 Kepala Keluarga (KK) masih berstatus sebagai pengungsi.
Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumut, Sri Wahyuni Pancasilawati, mengungkapkan bahwa ribuan pengungsi tersebut kini terkonsentrasi di dua wilayah utama di bagian barat Sumatera Utara.
Sebaran Lokasi Pengungsi:
Kabupaten Tapanuli Tengah: 2.564 jiwa (Wilayah terdampak paling signifikan).
Kabupaten Tapanuli Selatan: 452 jiwa.
"Data ini merupakan pembaruan sementara yang kami terima. Berbagai upaya penanganan darurat, pemenuhan logistik, dan peralatan terus diupayakan oleh masing-masing pemerintah daerah serta pemangku kebijakan terkait," ujar Sri Wahyuni, Kamis (5/3/2026).
Kilas Balik Bencana November 2025
Bencana yang terjadi pada 27 November 2025 tersebut tercatat melanda sedikitnya 20 kabupaten/kota di Sumatera Utara secara serentak. Wilayah yang terdampak meliputi kota-kota besar seperti Medan, Binjai, Tebingtinggi, Sibolga, hingga Padangsidimpuan.
Selain itu, daerah kabupaten seperti Deliserdang, Langkat, Serdang Bedagai, Humbang Hasundutan, hingga Pakpak Bharat juga melaporkan kerusakan infrastruktur yang cukup masif.
Meskipun sebagian besar warga di wilayah lain sudah mulai kembali ke rumah masing-masing, ribuan warga di Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan masih memerlukan perhatian khusus terkait kelayakan hunian pascabencana dan pemulihan ekonomi keluarga. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara berkomitmen untuk terus menginformasikan perkembangan data dan langkah-langkah rekonstruksi lebih lanjut.