SUMATERA UTARA — Prosesi yang berlangsung di Lapangan Distrik Kiwirok itu menjadi tontonan khidmat ratusan warga dari dua belas kampung. Delapan orang tersebut, yang salah satunya adalah komandan Kodap XV/NK Kupel Ngalum Oksibil, tidak hanya membacakan ikrar tetapi juga menyerahkan senjata api dan bendera Bintang Kejora kepada aparat TNI.
Harapan Baru di Bawah Lagu Indonesia Raya
Suasana haru mewarnai acara yang dihadiri unsur TNI, pemerintah distrik, tokoh adat, dan para pendeta itu. Puncaknya terjadi saat delapan eks anggota OPM menandatangani naskah ikrar, mencium Bendera Merah Putih, dan menyerahkan senjata mereka secara simbolis.
Wakil Panglima Komando Operasi TNI Habema, Brigjen TNI Riyanto, menyebut tindakan itu sebagai keberanian menutup lembaran lama. "Warga dua belas kampung yang tersebar di Kiwirok menyambut momentum tersebut dengan penuh harapan. Suasana khidmat terasa sejak lagu Indonesia Raya dikumandangkan bersama," katanya dalam keterangan resmi, Sabtu (11/6/2026).
Pintu Perdamaian Terbuka bagi yang Masih di Hutan
Brigjen Riyanto memanfaatkan momen ini untuk menyampaikan ajakan langsung kepada anggota OPM lain yang masih berada di pedalaman Papua. Menurutnya, kembali ke pangkuan keluarga dan masyarakat adalah pilihan yang tidak perlu ditunda.
"Mari kita bergandengan tangan membangun Papua bersama-sama. Kita semua TNI siap mendampingi masyarakat mewujudkan Papua yang damai dan sejahtera," ucapnya.
Ajakan tersebut menjadi penekanan bahwa jalur dialog dan pengabdian kepada negara tetap terbuka lebar bagi siapa pun yang memilih meninggalkan konflik bersenjata.
Kesukarelaan Jadi Simbol Perubahan Haluan
Penyerahan bendera Bintang Kejora dan senjata api oleh delapan orang itu bukan sekadar serah terima barang. Dalam konteks operasi TNI di Papua, langkah sukarela semacam ini dinilai sebagai indikator efektivitas pendekatan kesejahteraan dan keamanan yang humanis.
"Tindakan tersebut menjadi simbol keberanian untuk menutup lembaran lama dan memilih jalan damai sebagai masa depan yang lebih bermartabat," kata Brigjen Riyanto.
Peristiwa di Kiwirok ini menambah daftar panjang pengakuan kembali anggota kelompok separatis ke NKRI dalam beberapa tahun terakhir, terutama di wilayah Pegunungan Bintang yang kerap menjadi basis operasi TPNPB-OPM.