SUMATERA UTARA — Herry Dahana, purnawirawan jenderal bintang dua Polri yang kini menjabat anggota Dewan Pembina PP Gerakan Kristiani Indonesia Raya (GEKIRA), menyampaikan pandangannya dalam keterangan pers tertulis, Minggu (14/6/2026). Ia mengingatkan bahwa ancaman terhadap Indonesia saat ini tidak hanya berasal dari perlambatan ekonomi global, tetapi juga meliputi perang informasi, keamanan siber, ketahanan pangan, hingga dinamika geopolitik yang semakin tidak menentu.
Persatuan Nasional Jadi Modal Utama Hadapi Disinformasi
Menurut Herry, kekuatan terbesar Indonesia justru terletak pada kohesi nasional dan kemampuan kepemimpinan mengambil keputusan strategis. "Di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian, Indonesia membutuhkan stabilitas. Perbedaan pandangan adalah sesuatu yang wajar dalam demokrasi, tetapi jangan sampai berkembang menjadi konflik yang melemahkan persatuan bangsa," ujarnya.
Ia menekankan bahwa sejarah menunjukkan kemunduran suatu bangsa sering kali dipicu oleh perpecahan internal, bukan serangan dari luar. Ancaman terbesar, kata dia, muncul ketika bangsa kehilangan kemampuan berpikir kritis dan persatuan dalam menghadapi pengaruh asing.
Kritik Harus Diarahkan untuk Memperkuat, Bukan Merusak
Herry mengakui bahwa kritik merupakan bagian tak terpisahkan dari demokrasi. Namun, ia mengingatkan agar kritik tidak berkembang menjadi narasi yang merusak kepercayaan publik terhadap institusi negara. "Presiden Prabowo tidak pernah memandang kritik sebagai gangguan. Kritik yang konstruktif justru penting dalam demokrasi sebagai mekanisme pengawasan dan perbaikan," katanya.
Ia menilai Prabowo Subianto telah menunjukkan sikap terbuka terhadap masukan. Namun, ia meminta seluruh elemen bangsa, termasuk kekuatan politik, akademisi, dan tokoh masyarakat, untuk memberikan ruang bagi presiden bekerja menjalankan agenda strategis demi kepentingan rakyat.
Waspadai Intervensi Asing, Jangan Mudah Menuduh Tanpa Bukti
Dalam konteks isu pendanaan asing terhadap organisasi, media, dan lembaga sosial, Herry meminta masyarakat bersikap rasional. "Sikap yang paling bijak adalah tetap waspada terhadap potensi intervensi yang merugikan kepentingan nasional, tidak mudah menerima informasi tanpa verifikasi, mendorong transparansi sumber pendanaan, serta menjaga persatuan," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa berbagai tudingan soal destabilisasi atau intervensi politik harus didasarkan pada fakta dan proses hukum, bukan sekadar asumsi. Budaya verifikasi informasi dan transparansi menjadi kunci agar bangsa ini tidak mudah dipecah oleh isu politik maupun disinformasi.
Gotong Royong Kunci Wujudkan Indonesia Emas 2045
Herry optimistis pemerintahan Prabowo mampu menghadapi tantangan zaman jika seluruh komponen bangsa bersatu. "Bila bangsa ini bersatu, maka Indonesia akan mampu melewati berbagai ujian. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu menjaga persatuan di tengah perbedaan," katanya.
Ia mengajak generasi muda dan organisasi kemasyarakatan untuk menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok jangka pendek. Semangat gotong royong, menurutnya, menjadi modal utama menuju Indonesia Emas 2045.