SUMATERA UTARA — Pertandingan perdana Curaçao di Piala Dunia 2026 berakhir pahit. Negara dengan populasi hanya sekitar 155.000 jiwa itu harus mengakui keunggulan Jerman yang menang 7-1 di laga pembuka grup. Kekalahan ini sekaligus menjadi kemenangan terbesar Jerman sejak turnamen dimulai.
Air Mata Sang Arsitek di Balik Dongeng Karibia
Dick Advocaat tak kuasa menahan tangis setelah pertandingan. Pelatih asal Belanda berusia 78 tahun itu menuliskan namanya dalam buku rekor sebagai pelatih tertua yang pernah memimpin tim di Piala Dunia, menggeser posisi pendahulunya.
Ini menjadi penampilan ketiga Advocaat di Piala Dunia. Sebelumnya ia melatih Belanda pada 1994 dan Korea Selatan pada 2006. Namun perjalanannya menuju turnamen kali ini penuh liku.
Hampir Mundur Demi Sang Putri
Pada Februari lalu, Advocaat memutuskan mengundurkan diri dari kursi pelatih. Ia ingin fokus merawat putrinya yang tengah bermasalah dengan kesehatan. Keputusan berat itu diambil di tengah persiapan menuju Piala Dunia.
Kondisi putrinya berangsur membaik. Advocaat pun kembali memegang kendali tim pada 11 Mei, tepat sebelum keberangkatan ke turnamen. Kembalinya sang pelatih veteran menjadi suntikan moral bagi skuad Curaçao.
Semangat Negara Kecil yang Tak Gentar
Menjelang laga melawan Jerman, Advocaat menegaskan anak asuhnya tidak gentar. "Kami adalah negara kecil, tetapi kami akan mempersulit Jerman. Curaçao tidak rugi apa pun dan sangat mampu menciptakan kejutan," ujarnya.
Perbedaan kelas memang terlihat jelas di lapangan. Jerman mendominasi sejak awal dan mencetak tujuh gol. Namun Curaçao tetap meninggalkan jejak dengan satu gol balasan yang tercatat sebagai gol bersejarah pertama mereka di Piala Dunia.
Bagi tim debutan, momen tersebut menjadi pencapaian monumental. Sebuah kebanggaan yang membuat air mata Advocaat jatuh—bukan semata karena kekalahan, melainkan karena perjalanan panjang yang telah dilalui tim kecil ini untuk sampai ke panggung terbesar sepak bola dunia.