Pencarian

Ilmuwan Peringatkan Kekhawatiran soal Ponsel dan Otak Anak Jauh Melampaui Bukti Ilmiah yang Ada

Senin, 15 Juni 2026 • 13:04:31 WIB
Ilmuwan Peringatkan Kekhawatiran soal Ponsel dan Otak Anak Jauh Melampaui Bukti Ilmiah yang Ada
Ilmuwan menegaskan bukti kausal pengaruh ponsel terhadap otak anak masih minim dan bersifat korelasional.

Dalam sidang di hadapan Komite Sains, Inovasi, dan Teknologi pada Rabu (12/2), para anggota parlemen (MP) berulang kali meminta bukti bahwa perangkat digital mengubah struktur otak anak. Jawaban yang mereka dapatkan justru membuat mereka harus berpikir ulang.

Korelasi Bukan Kausalitas: Celah Besar Riset Digital dan Otak Anak

“Hampir tidak ada riset kausal di tahun-tahun awal. Hampir semuanya bersifat korelasional,” ujar Profesor Denis Mareschal, direktur Centre for Brain and Cognitive Development di Birkbeck. Ia menegaskan bahwa data yang ada saat ini hanya menunjukkan hubungan, bukan sebab-akibat langsung antara layar dan kerusakan otak.

Profesor Sarah-Jayne Blakemore dari University of Cambridge bahkan lebih lugas. “Apa bukti yang kita miliki soal dampak perangkat digital atau media sosial pada otak remaja? Hampir tidak ada,” katanya di hadapan komite. Ia menambahkan bahwa studi kecil yang ada belum pernah direplikasi dan murni bersifat korelasional.

Bukan Otak yang Rusak, Tapi Aktivitas yang Tergusur

Alih-alih membahas kerusakan langsung pada jaringan otak, Dr. Dusana Dorjee dari University of York justru menyoroti fenomena yang disebutnya displacement. Menurutnya, masalah sebenarnya bukanlah layar itu sendiri, melainkan aktivitas yang hilang saat anak-anak terlalu lama menatap gawai.

“Apa yang akan dilakukan anak-anak jika mereka tidak berada di depan perangkat mereka? Mereka akan berinteraksi dengan orang lain, mereka akan bermain, mereka akan mendapatkan input multi-sensorik yang tidak bisa diberikan perangkat digital,” kata Dorjee. Anak-anak belajar pengaturan diri melalui percakapan, olahraga, dan interaksi sosial — kegiatan yang perlahan tergusur oleh konsumsi konten digital.

Media Sosial, AI, dan Batasan Usia: Sains Tak Bisa Memberi Angka Pasti

Ketika MP mendesak agar ilmu saraf bisa menentukan usia ideal seorang anak diizinkan mengakses media sosial, jawaban Blakemore kembali mengecewakan. “Ilmu saraf tidak bisa menentukan usia yang tepat. Perbedaan individu dalam perkembangan otak sangat besar,” jelasnya. Ia menekankan bahwa bahkan orang dewasa pun kesulitan meletakkan ponsel jika terus-menerus dihadapkan pada konten menarik, apalagi anak-anak dengan korteks prefrontal yang masih berkembang.

Soal kecerdasan buatan (AI) dan chatbot, jawabannya bahkan lebih kabur. “Kami tidak punya bukti sama sekali, dan ini adalah area yang sangat mendesak untuk diteliti,” Blakemore mengakui. Pertanyaan kuncinya, menurut dia, adalah bagaimana anak-anak menafsirkan perilaku dan saran dari chatbot AI — apakah mereka memperlakukannya seperti teman manusia atau tidak.

Yang Terbukti dan Yang Tidak: Bedakan Layar Demi Layar

Para peneliti juga menolak menyamaratakan semua jenis layar. Mareschal menunjuk bukti bahwa panggilan video justru membantu keluarga tetap terhubung. Dorjee membedakan antara aplikasi edukatif dengan kebiasaan scroll konten tanpa henti yang diatur algoritma. Pesan mereka: jangan menyamakan FaceTime dengan TikTok.

Jika ada satu kesimpulan dari sidang ini, kata mereka, adalah bahwa kekhawatiran publik tentang masa kecil digital telah melesat jauh — meninggalkan bukti ilmiah yang masih tertatih-tatih di belakang.

Bagikan
Sumber: theregister.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks